Rusminarto et al. (1984) dalam
pengamatannya di areal hutan mangrove di Tanjung Karawang menjumpai 9 jenis
nyamuk yang berada di areal tersebut. Dilaporkan bahwa nyamuk Anopheles sp.,
nyamuk jenis vektor penyakit malaria, ternyata makin meningkat populasinya
seiring dengan makin terbukanya pertambakan dalam areal mangrove. Ini
mengindikasikan kemungkinan meningkatnya penularan malaria dengan makin
terbukanya areal-areal pertambakan perikanan. Kajian lain yang berkaitan dengan
polutan, dilaporkan oleh Gunawan dan Anwar (2005) yang menemukan bahwa tambak
tanpa mangrove mengandung bahan pencemar berbahaya merkuri (Hg) 16 kali lebih
tinggi dari perairan hutan mangrove alami dan 14 kali lebih tinggi dari tambak
yang masih bermangrove (silvofishery). Saat ini sedang diteliti, di mana
kandungan merkuri diserap (pohon mangrove, biota dasar perairan, atau pun
ikan).
A. Mangrove dan Tsunami
Fungsi dan manfaat mangrove telah banyak diketahui, baik sebagai tempat
pemijahan ikan di perairan, pelindung daratan dari abrasi oleh ombak, pelindung
daratan dari tiupan angin, penyaring intrusi air laut ke daratan dan kandungan
logam berat yang berbahaya bagi kehidupan, tempat singgah migrasi burung, dan
sebagai habitat satwa liar serta manfaat langsung lainnya bagi manusia. Musibah
gempa dan ombak besar tsunami yang melanda Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan
Pulau Nias akhir tahun 2004 yang lalu telah mengingatkan kembali betapa pentingnya
mangrove dan hutan pantai bagi perlindungan pantai. Berdasar karakteristik
wilayahnya, pantai di sekitar kota Padang ternyata merupakan alur yang sama
sebagai alur rawan gempa tsunami dan Dilaporkan bahwa pada wilayah yang
memiliki mangrove dan hutan pantai yang relatif baik, cenderung kurang terkena
dampak gelombang tsunami tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketebalan
mangrove selebar 200 m dengan kerapatan 30 pohon/100 m dengan diameter batang
15 cm dapat meredam sekitar 50% energi gelombang tsunami (Harada dan Fumihiko,
2003 dalam Diposaptono, 2005). Gelombang laut setinggi 1,09 m di Teluk
Grajagan, Banyuwangi dengan energi gelombang sebesar 1.493,33 Joule tereduksi
gelombangnya oleh hutan mangrove menjadi 0,73 m (Pratikno et al., 2002). Hasil
penelitian Istiyanto et al. (2003) yang merupakan pengujian model di
laboratorium antara lain menyimpulkan bahwa rumpun bakau (Rhizophora spp.)
memantulkan, meneruskan, dan menyerap energi gelombang tsunami yang diwujudkan
dalam perubahan tinggi gelombang tsunami melalui rumpun tersebut. Hasil-hasil
tersebut menunjukkan bahwa keberadaan mangrove di sepanjang pantai dapat
memperkecil efek gelombang tsunami yang menerjang pantai. Mazda dan Wolanski
(1997) serta Mazda dan Magi (1997) menambahkan bahwa vegetasi mangrove,
terutama perakarannya dapat meredam energi gelombang dengan cara menurunkan
tinggi gelombang saat melalui mangrove.

Foto/Gambar Hutan Bakau (Mangrove) di Indonesia
B. Mangrove dan Sedimentasi
Hutan mangrove mampu mengikat sedimen yang terlarut dari sungai dan memperkecil
erosi atau abrasi pantai. Erosi di pantai Marunda, Jakarta yang tidak
bermangrove selama dua bulan mencapai 2 m, sementara yang berbakau hanya 1 m
(Sediadi, 1991). Dalam kaitannya dengan kecepatan pengendapan tanah di hutan
mangrove, Anwar (1998) dengan mengambil lokasi penelitian di Suwung Bali dan
Gili Sulat Lombok, menginformasikan laju akumulasi tanah adalah 20,6 kg/m/th
atau setara dengan 14,7 mm/th (dominasi Sonneratia alba); 9,0 kg/m/th atau 6,4
mm/th (dominasi Rhizophora apiculata); 6,0 kg/m /th atau 4,3 mm/th (bekas
tambak); dan 8,5 kg/m/th atau 6,0 mm/th (mangrove campuran). Dengan demikian,
rata-rata akumulasi tanah pada mangrove Suwung 12,6 kg/m/th atau 9 mm/th,
sedang mangrove Gili Sulat 8,5 kg/m/th atau 6,0 mm/th. Data lain menunjukkan
adanya kecenderungan terjadinya pengendapan tanah setebal antara 6 sampai 15
mm/ha/th atas kehadiran mangrove. Informasi semacam ini sangat diperlukan guna
mengantisipasi permasalahan sosial atas lahan timbul di kemudian hari.
C. Mangrove dan Siklus Hara
Penelitian tentang gugur daun telah cukup banyak dilakukan. Hasil pengamatan
produksi serasah di Talidendang Besar, Sumatera Timur oleh Kusmana et al.
(1995) menunjukkan bahwa jenis Bruguierra parviflora sebesar 1.267 g/m/th, B.
sexangula 1.269 g/m/th, dan 1.096 g/m/th untuk komunitas, B. sexangula-Nypa
fruticans. Pengamatan Khairijon (1999) di hutan mangrove Pangkalan Batang,
Bengkalis, Riau, menghasilkan 5,87 g/0,25m/minggu daun dan ranting R. mucronata
atau setara dengan 1.221 g/m/th dan 2,30 g/0,25m/minggu daun dan ranting
Avicennia marina atau setara dengan 478,4 g/m/th, dan cenderung membesar ke
arah garis pantai.
Hasil pengamatan Halidah (2000) di Sinjai, Sulawesi Selatan menginformasi-kan
adanya perbedaan produksi serasah berdasar usia tanamannya. R. mucronata 8
tahun (12,75 ton/ha/th), kemudian 10 tahun (11,68 ton/ha/th), dan 9 tahun
(10,09 ton/ha/th), dengan laju pelapukan 74 %/60 hr (tegakan 8 th); 96%/60 hr
(tegakan 9 th), dan 96,5%/60 hr (tegakan 10 th). Hasil pengamatan di luar pun
memperoleh data produksi berkisar antara 5-17 ton daun kering/ha/th (Bunt,
1978; Sasekumar dan Loi, 1983; Boonruang, 1984; dan Leach dan Burkin, 1985).
Sukardjo (1995) menambahkan hasil pengamatan guguran serasahnya sebesar 13,08
ton/ha/th, yang setara dengan penyumbangan 2 kg P/ha/th dan 148 kg N/ha/th.
Nilai ini sangat berarti bagi sumbangan unsur hara bagi flora dan fauna yang
hidup di derah tersebut maupun kaitannya dengan perputaran hara dalam ekosistem
mangrove.
D. Mangrove dan Produktivitas Perikanan
Kebijakan pemerintah dalam menggalakkan komoditi ekspor udang, telah turut
andil dalam merubah sistem pertambakan yang ada dalam wilayah kawasan hutan.
Empang parit yang semula digarap oleh penggarap tambak petani setempat,
berangsur beralih “kepemilikannya” ke pemilik modal, serta merubah menjadi
tambak intensif yang tidak berhutan lagi (Bratamihardja, 1991). Ketentuan jalur
hijau dengan lebar 130 x nilai rata-rata perbedaan pasang tertinggi dan
terendah tahunan (Keppres No. 32/1990) berangsur terabaikan. Padahal, hasil
penelitian Martosubroto dan Naamin (1979) dalam Dit. Bina Pesisir (2004)
menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara luasan kawasan mangrove
dengan produksi perikanan budidaya. Semakin meningkatnya luasan kawasan mangrove
maka produksi perikanan pun turut meningkat dengan membentuk persamaan :
Y = 0,06 + 0,15 X
Y merupakan
produksi tangkapan dalam ton/th,
sedangkan X merupakan luasan mangrove dalam ha.
Hasil penelitian lain yang berkaitan dengan ekonomi menunjukkan bahwa pembuatan
1 ha tambak ikan pada hutan mangrove alam akan menghasilkan ikan/udang sebayak
287 kg/tahun, namun dengan hilangnya setiap 1 ha hutan mangrove akan
mengakibatkan kerugian 480 kg ikan dan udang di lepas pantai per tahunnya
(Turner, 1977). Pengurangan hutan mangrove terutama di areal green belt sudah
barang tentu akan menurunkan produktivitas perikanan tangkapan.
E. Mangrove dan Intrusi Air Laut
Mangrove juga mampu dalam menekan laju intrusi air laut ke arah daratan. Hasil
penelitian Sukresno dan Anwar (1999) terhadap air sumur pada berbagai jarak
dari pantai menggambarkan bahwa kondisi air pada jarak 1 km untuk wilayah
Pemalang dan Jepara dengan kondisi mangrove-nya yang relatif baik, masih
tergolong baik, sementara pada wilayah Semarang dan Pekalongan, Jawa Tengah
sudah terintrusi pada jarak 1 km.
F. Mangrove dan Kesehatan
Rusminarto et al. (1984) dalam pengamatannya di areal hutan mangrove di Tanjung
Karawang menjumpai 9 jenis nyamuk yang berada di areal tersebut. Dilaporkan
bahwa nyamuk Anopheles sp., nyamuk jenis vektor penyakit malaria, ternyata
makin meningkat populasinya seiring dengan makin terbukanya pertambakan dalam
areal mangrove. Ini mengindikasikan kemungkinan meningkatnya penularan malaria
dengan makin terbukanya areal-areal pertambakan perikanan. Kajian lain yang
berkaitan dengan polutan, dilaporkan oleh Gunawan dan Anwar (2005) yang
menemukan bahwa tambak tanpa mangrove mengandung bahan pencemar berbahaya
merkuri (Hg) 16 kali lebih tinggi dari perairan hutan mangrove alami dan 14
kali lebih tinggi dari tambak yang masih bermangrove (silvofishery). Saat ini
sedang diteliti, di mana kandungan merkuri diserap (pohon mangrove, biota dasar
perairan, atau pun ikan).
G. Mangrove dan Keanekaragaman Hayati
Mangrove juga memiliki fungsi ekologis sebagai habitat berbagai jenis satwa
liar. Keanekaragaman fauna di hutan mangrove cukup tinggi, secara garis besar
dapat dibagi dua kelompok, yaitu fauna akuatik seperti ikan, udang, kerang, dan
lainnya serta kelompok terestrial seperti insekta, reptilia, amphibia, mamalia,
dan burung (Nirarita et al., 996). Gunawan (1995) menemukan 12 jenis satwa
melata dan amphibia, 3 jenis mamalia, dan 53 jenis burung di hutan mangrove
Arakan Wawontulap dan Pulau Mantehage di Sulawesi Utara. Hasil survey Tim ADB
dan Pemerintah Indonesia (1992) menemukan 42 jenis burung yang berasosiasi
dengan hutan mangrove di Sulawesi. Di Pulau Jawa tercatat 167 jenis burung
dijumpai di hutan mangrove, baik yang menetap maupun migran (Nirarita et al.,
1996). Kalong (Pteropus vampyrus), monyet (Macaca fascicularis), lutung
(Presbytis cristatus), bekantan (Nasalis larvatus), kucing bakau (Felis
viverrina), luwak (Paradoxurus hermaphroditus), dan garangan (Herpetes
javanicus) juga menyukai hutan mangrove sebagai habitatnya (Nontji, 1987).
Beberapa jenis reptilia yang hidup di hutan bakau antara lain biawak (Varanus
salvator), ular belang (Boiga dendrophila), ular sanca (Phyton reticulatus),
dan jenis-jenis ular air seperti Cerbera rhynchops, Archrochordus granulatus,
Homalopsis buccata, dan Fordonia leucobalia. Dua jenis katak yang dapat
ditemukan di hutan mangrove adalah Rana cancrivora dan R. limnocharis (Nirarita
et al., 1996).
Hutan mangrove juga sebagai habitat beberapa jenis burung yang dilindungi
seperti pecuk ular (Anhinga anhinga melanogaster), bintayung (Freagata
andrew-si), kuntul perak kecil (Egretta garzetta), kowak merah (Nycticorax
caledonicus), bangau tongtong (Leptoptilos javanicus), ibis hitam (Plegadis
falcinellus), bangau hitam (Ciconia episcopus), burung duit (Vanellus indicus),
trinil tutul (Tringa guitifer), blekek asia (Limnodromus semipalmatus),
gegajahan besar (Numenius arquata), dan trulek lidi (Himantopus himantopus)
(Sutedja dan Indrabrata, 1992). Jenis-jenis burung Egretta eulophotes, kuntul perak
(E. intermedia), kuntul putih besar (E. alba), bluwok (Ibis cinereus), dan
cangak laut (Ardea sumatrana) juga mencari makan di dekat hutan mangrove
(Whitten et al., 1988).
PERANAN SOSIAL EKONOMIS MANGROVE
Contoh pemanfaatan mangrove, baik langsung maupun tidak langsung antara lain:
A. Arang dan Kayu Bakar
Arang mangrove memiliki kualitas yang baik setelah arang kayu oak dari Jepang
dan arang onshyu dari Cina. Pengusahaan arang mangrove di Indonesia sudah
dilakukan sejak ratusan tahun lalu, antara lain di Aceh, Riau, dan Kalimantan
Barat. Pada tahun 1998 produksi arang mangrove sekitar 330.000 ton yang
sebagian besar diekspor dengan negara tujuan Jepang dan Taiwan melalui
Singapura. Harga ekspor arang mangrove sekitar US$ 1.000/10 ton, sedangkan harga
lokal antara Rp 400,- - Rp 700,-/kg. Jumlah ekspor arang mangrove tahun 1993
mencapai 83.000.000 kg dengan nilai US$ 13.000.000 (Inoue et al., 1999). Jenis
Rhizophoraceae seperti R. apiculata, R. Mucronata, dan B. gym-norrhiza
merupakan kayu bakar berkualitas baik karena menghasilkan panas yang tinggi dan
awet. Harga jual kayu bakar di pasar desa Rp 13.000,-/m yang cukup untuk
memasak selama sebulan sekeluarga dengan tiga orang anak. Kayu bakar mangrove
sangat efisien, dengan diameter 8 cm dan panjang 50 cm cukup untuk sekali
memasak untuk 5 orang. Kayu bakar menjadi sangat penting bagi masyarakat
terutama dari golongan miskin ketika harga bahan bakar minyak melambung tinggi
(Inoue et al., 1999).
B. Bahan Bangunan
Kayu mangrove seperti R. apiculata, R. Mucronata, dan B. gymnorrhiza sangat
cocok digunakan untuk tiang atau kaso dalam konstruksi rumah karena batangnya
lurus dan dapat bertahan sampai 50 tahun. Pada tahun 1990-an dengan diameter
10-13 cm, panjang 4,9-5,5 m dan 6,1 m, satu tiang mencapai harga Rp 7.000,-
sampai Rp 9.000,-. Kayu ini diperoleh dari hasil penjarangan (Inoue et al.,
1999).
C. Bahan Baku Chip
Jenis Rhizophoraceae sangat cocok untuk bahan baku chip. Pada tahun 1998 jumlah
produksi chip mangrove kurang lebih 250.000 ton yang sebagian besar diekspor ke
Korea dan Jepang. Areal produksinya tersebar di Riau, Aceh, Lampung,
Kalimantan, dan Papua. Harga chip di pasar internasional kurang lebih US$
40/ton (Inoue et al., 1999).
D. Tanin
Tanin merupakan ekstrak kulit dari jenis-jenis R. apiculata, R. Mucronata, dan
Xylocarpus granatum digunakan untuk menyamak kulit pada industri sepatu, tas,
dan lain-lain. Tanin juga dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan lem
untuk kayu lapis. Di Jepang tanin mangrove digunakan sebagai bahan pencelup
dengan harga 2-10 ribu yen (Inoue et al., 1999).
E. Nipah
Nipah (Nypa fruticans) memiliki arti ekonomi yang sangat penting bagi
masyarakat sekitar hutan mangrove. Daun nipah dianyam menjadi atap rumah yang
dapat bertahan sampai 5 tahun (Inoue et al., 1999). Pembuatan atap nipah
memberikan sumbangan ekonomi yang cukup penting bagi rumah tangga nelayan dan
merupakan pekerjaan ibu rumah tangga dan anak-anaknya di waktu senggang.
Menurut hasil penelitian Gunawan (2000) hutan mangrove di Luwu Timur menopang kehidupan
1.475 keluarga perajin atap nipah dengan hasil 460 ton pada tahun 1999.
F. Obat-obatan
Beberapa jenis mangrove dapat digunakan sebagai obat tradisional. Air rebusan
R. apiculata dapat digunakan sebagai astrigent. Kulit R. mucronata dapat digunakan
untuk menghentikan pendarahan. Air rebusan Ceriops tagal dapat digunakan
sebagai antiseptik luka, sedangkan air rebusan Acanthus illicifolius dapat
digunakan untuk obat diabetes (Inoue et al., 1999).
G. Perikanan dan Rehabilitasi Mangrove
Sudah diulas di depan bahwa pembuatan 1 ha tambak ikan pada hutan mangrove alam
akan menghasilkan ikan/udang sebayak 287 kg/tahun, namun dengan hilangnya
setiap 1 ha hutan mangrove akan mengakibatkan kerugian 480 kg ikan dan udang di
lepas pantai per tahunnya (Turner, 1977). Dari sini tampak bahwa keberadaan
hutan mangrove sangat penting bagi produktivitas perikanan pada perairan bebas.
Dalam mengakomodasi kebutuhan lahan dan lapangan pekerjaan, hutan mangrove
dapat dikelola dengan model silvofishery atau wanamina yang dikaitkan dengan
program rehabilitasi pantai dan pesisisr. Kegiatan silvofishery berupa empang
parit pada kawasan hutan mangrove, terutama di areal Perum Perhutani telah
dimulai sejak tahun 1978. Empang parit ini pada dasarnya adalah semacam
tumpangsari pada hutan jati, di mana ikan dan udang sebagai pengganti tanaman
polowijo, dengan jangka waktu 3-5 tahun masa kontrak (Wirjodarmodjo dan Hamzah,
1984).
Semula, empang parit ini hanya berupa parit selebar 4 m yang disisihkan dari
tepi areal kegiatan reboisasi hutan mangrove, sehingga keluasannya mencapai
10-15% dari total area garapan. Jarak tanam 3 m x 2 m, dengan harapan 4-5 tahun
pada akhir kontrak, tajuk tanaman sudah saling menutup (Wirdarmodjo dan Hamzah,
1984; Perum Perhutani Jawa Barat, 1984). Sejak tahun 1990 dibuat sistem pola
terpisah (komplangan) dengan 20 % areal untuk budidaya ikan dan 80% areal untuk
hutan dengan pasang surut bebas.
Dari sistem silvofishery semacam ini dengan pemeliharaan bandeng dan udang liar
dapat dihasilkan keuntungan sebesar Rp 5.122.000,-/ha/tahun untuk 2 kali panen
setiap tahun (Perum Perhutani, 1995). Dalam membandingkan pola silvofishery di
Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, pola komplangan menunjukkan perbandingan
relatif lebih baik daripada pola empang parit, baik dalam hal produktivitas
perairan maupun pertumbuhan mutlak, kelangsungan hidup maupun biomassa bandeng
yang dipelihara pada masing-masing pola (Sumedi dan Mulyadhi, 1996). Selisih
pertumbuhan mutlaknya hanya 9,6 g sedangkan biomassanya 7,1 kg/m
3
Hasil ini berbeda dengan penelitian Poedjirahajoe (2000) yang mengemukakan
bahwa justru pola empang parit menghasilkan bandeng pada usia 3 bulan dengan
berat rata-rata 1 kg lebih berat dibandingkan dengan pola komplangan. Namun
demikian, kedua sistem ini turut membantu dalam meningkatkan income petani
petambak. Masyarakat yang terlibat dalam pengelolaan mangrove dengan sistem ini
cukup besar. Data dari KPH Purwakarta menunjukkan bahwa dari luas areal
mangrove seluas 14.535 ha dapat melibatkan sebanyak 4.342 KK dalam kegiatan
silvofoshery (Perhutani Purwakarta, 2005). Data dari Badan Litbang Pertanian
(1986) dalam Anwar (2005) menggambarkan bahwa kontribusi dari usaha budidaya
tambak dengan luas total 208.000 ha dapat menghasilkan 129.279 ton ikan dan
udang yang apabila ditaksir, nilainya melebihi dari Rp 138 milyar. Kegiatan ini
pun dilaporkan dapat menyerap tenaga kerja sebanyak 117.034 KK yang sudah
barang tentu dapat memberikan penghasilan yang lebih baik bagi petani kecil.
H. Pertanian
Keberadaan hutan mangrove penting bagi pertanian di sepanjang pantai terutama
sebagai pelindung dari hempasan angin, air pasang, dan badai. Budidaya lebah
madu juga dapat dikembangkan di hutan mangrove, bunga dari Sonneratia sp. dapat
menghasilkan madu dengan kualitas baik. Tempat di areal hutan mangrove yang
masih terkena pasang surut dapat dijadikan pembuatan garam. Pembuatan garam
dapat dilakukan dengan perebusan air laut dengan kayu bakar dari kayu-kayu
mangrove yang mati. Di Bali, garam yang diproduksi di sekitar mangrove dikenal
tidak pahit dan banyak mengandung mineral dengan harga di pasar lokal Rp
1.500,-/kg, sedangkan bila dikemas untuk dijual kepada turis harganya menjadi
US$ 6 per 700 gram (Rp 68.000,-/kg). Air sisa rebusan kedua dimanfaatkan untuk
produksi tempe dan tahu dan dijual dengan harga Rp 2.000,-/liter (Inoue et al.,
1999).
I. Pariwisata
Hutan mangrove yang telah dikembangkan menjadi obyek wisata alam antara lain di
Sinjai (Sulawesi Selatan), Muara Angke (DKI), Suwung, Denpasar (Bali), Blanakan
dan Cikeong (Jawa Barat), dan Cilacap (Jawa Tengah). Hutan mangrove memberikan
obyek wisata yang berbeda dengan obyek wisata alam lainnya. Karakteristik
hutannya yang berada di peralihan antara darat dan laut memiliki keunikan dalam
beberapa hal. Para wisatawan juga memperoleh pelajaran tentang lingkungan
langsung dari alam. Pantai Padang, Sumatera Barat yang memiliki areal mangrove
seluas 43,80 ha dalam kawasan hutan, memiliki peluang untuk dijadikan areal
wisata mangrove.
Kegiatan wisata ini di samping memberikan pendapatan langsung bagi pengelola
melalui penjualan tiket masuk dan parkir, juga mampu menumbuhkan perekonomian
masyarakat di sekitarnya dengan menyediakan lapangan kerja dan kesempatan
berusaha, seperti membuka warung makan, menyewakan perahu, dan menjadi pemandu
wisata.
http://www.ubb.ac.id/menulengkap.php?judul=Mengapa%20Ekosistem%20Hutan%20Mangrove%20%28Hutan%20Bakau%29%20harus%20diselamatkan%20dari%20Kerusakan%20Lingkungan&&nomorurut_artikel=269